Tinggalkan Inggris, cewek ini pertaruhkan nyawa buat basmi ISIS
Cerita kekejaman yang dilakukan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) membuat wanita asal Blackburn, Inggris ini terpanggil untuk berbuat sesuatu. Dia rela meninggalkan negaranya, segala kenyamanan demi berada di garis depan pertempuran dan menghadapi para pelaku teror itu di Suriah.
Dilansir the Guardian, Kamis (9/2), keberanian yang dilakukan Kimberly Taylor (27) pergi ke Suriah membuatnya menjadi wanita pertama dari Inggris untuk melawan ISIS. Dia bergabung dengan Unit Perlindungan Wanita (YPC), kesatuan tempur khusus perempuan dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG).
Kimie, atau juga dipanggil dengan nama Zilan Dilmar, mengaku telah menghabiskan waktu selama 11 bulan untuk mempelajari rakyat Kurdi dan politik lokal, persenjataan dan taktik tempur di akademi militer YPJ. Dia berangkat sejak Oktober lalu, dan kini terlibat dalam pertempuran untuk merebut Raqqa dari tangan ISIS.
"Saya pasrahkan hidup saya untuk ini. Ini semua untuk seluruh dunia, kemanusiaan dan semua orang yang tertekan, di manapun. Ini bukan sekadar pembunuhan dan pemerkosaan yang ISIS lakukan. Ini penyiksaan sistematis terhadap mental dan fisik yang tidak bisa kita bayangkan,' ujar Kimie.
Kimie mengaku termotivasi mendengar cerita seorang rekannya, seorang pejuang YPJ dari Suriah, di mana desa tempatnya tinggal diporak-porandakan tentara ISIS tahun lalu. Ketiadaan pemerintah di negara yang sedang diguncang perang saudara membuat warganya pasrah.
"Dia berasal dari keluarga yang Pro Assad dan saudara perempuannya yang masih berusia delapan tahun menulis: Tanpa pimpinan kami, di sini tidak ada kehidupan'. Bocah itu melakukannya demi memprotes ISIS. Mereka (ISIS) menangkap dan membawanya ke bangunan tinggi dan mengejarnya dengan mobil. Kemudian di saat terakhir, dia (bocah malang itu) dilempar dari bangunan. Teman saya ini memilih lari dan bergabung dengan YPJ," ungkapnya.
Sebelum terbang ke Suriah, Kimie dengan aksen Lancashire ini besar di Darwen dekat Blackburn, hingga dia bersama keluarganya pindah ke Merseyside saat remaja. Dia menyelesaikan kuliahnya di Universitas Liverpool menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berkeliling dunia.
Dia mengaku sempat berangkat ke Afrika, Amerika Selatan dan Eropa, dan sempat terlibat dalam pekerjaan aktivis politik serta penulis untuk majalah dan sejumlah situs sayap kiri. Perjalannya ke Suriah dilakukannya melalui laman kemanusiaan yang memeringati pembantaian Sinjar pada Agustus 2014 lalu, di mana ISIS menculik 5.000 wanita dan anak perempuan dari suku Yazidi, serta membantai seluruh anak laki-laki dan pria dewasa.
Panggilan itu datang ketika dia melihat langsung penderitaan yang dialami para pengungsi Yazidi usai desa mereka diserbu ISIS. Ketika seorang ibu meminta orang-orang tak dikenal untuk membawa bayi yang digendongnya demo mendapatkan hidup yang lebih baik, sementara tubuhnya penuh dengan luka. Dan beberapa pria yang enggan meninggalkan tempat tinggalnya karena kedua bayinya diculik militan ISIS.
"Saat itu, saya berjanji untuk mengabdikan hidup saya untuk membantu orang-orang ini," tambah Kimie.
Dia sempat kembali ke Inggris beberapa bulan dan berangkat ke Swedia untuk belajar ilmu politik di Universitas Stockholm. Baru pada Maret tahun lalu, dia menuju ke Rojava, wilayah otonomi di utara Suriah dan tanah air bagi bangsa Kurdi.




Post a Comment