Header Ads

Pengusiran penumpang United Airlines picu kemarahan rakyat China


 Aksi pengusiran petugas keamanan terhadap seorang penumpang di maskapai Amerika Serikat (AS) United Airlines memicu kehebohan sekaligus kemarahan publik. Bukan hanya di AS saja, tetapi juga penduduk dari negara lain khususnya China.

Pasalnya, penumpang yang diusir dengan cara diseret itu disebut-sebut sebagai pria keturunan China. Hal itu juga diungkapkan oleh penumpang lain yang menyaksikan insiden penyeretan secara langsung.

Kemarahan rakyat China khususnya di kalangan pengguna internet merebak. Bahkan tagar "United Airlines mengusir paksa penumpang dari pesawat" menjadi topik paling populer di situs media sosial China, Weibo.

Mereka menyebut maskapai tersebut telah bersikap rasis karena mengusir pria itu. Mereka juga menuntut agar pihak maskapai United Airlines meminta maaf terhadap penumpang yang diusir karena pesawat kelebihan penumpang.

Bukan hanya rakyatnya, media China juga menyebut peristiwa ini sebagai bentuk kekerasan sosial dan rasisme terhadap orang-orang keturunan Tionghoa di luar negeri. Media juga menyebut ini sebagai bukti kemunafikan Barat terhadap isu-isu hak asasi manusia.

"Orang-orang di seluruh Asia harus memboikot maskapai mengerikan ini," tulis salah satu pengguna internet," seperti dilansir dari laman New York Times, Selasa (11/4).

Jika benar terjadi pemboikotan, maka maskapai United Airlines akan mengalami kerugian besar. Sebab, United Airlines memiliki hubungan bisnis cukup erat dengan China, di mana mereka menjadwalkan penerbangan nonstop ke Beijing, Shanghai, Hangzhou, dan kota-kota lain di China setiap harinya.

Sementara itu, United Airlines menyatakan pembelaan dengan menyatakan pihaknya telah meminta penumpang untuk turun karena pesawat kelebihan penumpang. Sebagai gantinya, maskapai akan memberikan kompensasi berupa uang.

Namun, karena tidak ada penumpang yang bersedia menjadi relawan, petugas maskapai menjalankan prosedur dengan cara memilih secara acak penumpang yang harus turun dari pesawat. Tiga orang penumpang bersedia turun tanpa melakukan perlawanan, sementara satu pria berkeras tak mau turun.

Pria tersebut diidentifikasi sebagai dokter yang harus segera terbang ke Kentucky untuk menengok pasiennya. Dalam video yang beredar, pria tersebut diseret paksa dari kabin pesawat dengan penampilan mengenaskan dan penuh darah di sekitar mulutnya.

Bos United Airline, Oscar Munoz, baru-baru ini mengeluarkan permintaan maaf setelah sebelumnya menuding penumpang tersebut tidak mematuhi aturan yang diterapkan maskapai. Dalam sebuah pernyataan, dia berkata akan berusaha memperbaiki keadaan dan memberikan ganti rugi terhadap penumpang tersebut.

"Kami meminta maaf karena harus mengakomodasi ulang penumpang-penumpang ini. Kami juga menyayangkan peristiwa ini. Saat ini maskapai sedang melakukan evaluasi terkait hal ini," kata Munoz. 

No comments

Powered by Blogger.